Selasa, 04 November 2008

Menjadi Orang Hebat

Ehemmm. Sebelum kita lanjutkan pengajian - eh bukan pengajian tetapi pengkajian – kita tentang gimana menjadi manusia yang hebat, maka tolong jawab dulu pertanyaan berikut :

1. Manusia hebat itu apaan sih ? hayo cepat dijawab.
2. Kenapa sih manusia perlu menjadi hebat. Emang harus ? yang ini juga harus dijawab loh.

Baik. Perhatikan. Setelah anda menjawabnya dengan yakin dan mantap – apapun jawaban anda – tidak peduli apakah jawaban anda itu logis atau tidak, serius atau tidak, lazim atau tidak, aneh atau tidak – coba terusin cari kata-kata yang lain yang senada dengan deretan kata-kata diatas – dan anda bisa mempertahankan jawaban anda dengan argumentasi yang baik tidak peduli argumentasi itu benar atau tidak – sudah, nggak usah panjang-panjang – yang penting jangan bilang pokoknya, maka jawaban anda itu benar. Paling tidak benar menurut anda. Daripada nggak ada yang mau membenarkan jawaban anda ?

Tetapi seandainya kita hanya menginginkan benar menurut selera kita masing-masing yang dengan itu kita berusaha mempertahankannya mati-matian – walaupun sudah ketahuan kalau jawaban dan argumen orang lain lebih mendekati kebenaran – maka kehidupan ini bisa kacau. Maka dari itu seberapapun tingkat kecerdasan dan kepandaian kita, maka perlu adanya semacam kesepakatan untuk mendefisikan atau menjawab sebuah persoalan.

Untu itu dibutuhkan kebesaran jiwa dari masing-masing kita untuk bisa menerima sesuatu yang memang dirasakan secara sadar lebih mendekati kaidah kebenaran. Untuk itu dibutuhkan kesiapan dari masing-masing kita untuk menanggalkan jubah keyakinan kita ketika sudah disepakati suatu kebenaran baru yang berbeda dengan anggapan awal yang kita yakini. Tanpa kebesaran jiwa semacam itu, maka sulit rasanya untuk bisa menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan di atas.

Ya, tapi jawabannya yang benar apaan ?

Sabar dulu, sebentar. Jawaban yang benar apa, itu tidak penting. Yang penting adalah kesiapan kita untuk menerima kemungkinan kebenaran dari jawaban orang lain. Nah, makanya sebelum saya sampaikan jawaban yang benar, sebaiknya kita lihat penggalan kisah yang berikut ini.

Alkisah berkumpullah 5 jawara hebat di Negeri Hand. Kelima jawara tersebut adalah pendekar hebat tak terkalahkan yang selama ini telah berjasa mempertahankan negeri Hand dari serangan musuh. Akan tetapi raja sepertinya ingin memberikan penghargaan kepada pendekar terbaik dari kelima pendekar hebat yang ada. Sehingga akhirnya kelima pendekar itupun diuji kehebatannya dengan diadakan pertarungan secara terbuka.

Setelah seluruh rakyat dan penghuni istana negeri Hand sudah memenuhi lapangan tempat pertarungan kelima jawara terbaik negeri, maka pertarunganpun dimulai. Dan sebelumnya masing-masing pendekar diperintahkan raja untuk memperkenalkan kehebatan masing-masing.

Kesempatan pertama, tampillah Pendekar Jempol (Pendekar Ibu Jari). Dia mengatakan bahwa tidak ada yang lebih hebat darinya. Setiap kali manusia hendak memberikan ungkapan tanda kehebatan seseorang atau sebuah kejadian, maka yang diacungkan oleh tangan adalah Ibu Jari dan bukan jari yang lain. Diapun mengatakan bahwa tanpa dirinya – ibunya para jari – maka tidak akan mungkin ada jari yang lain. Tak lupa Pendekar Jempol juga memamerkan bentuk tubuhnya yang memang kelihatan lebih besar dan berisi dibandingkan jari yang lainnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Jempol, maka seluruh pendudukan negeri Hand-pun memberikan tepuk tangan meriah dan mengelu-elukannya sebagai pendekar hebat.

Kemudian pada kesempatan kedua, tampillah Pendekar Telunjuk. Dengan gagah berani dia menunjukkan kehebatannya. Dia mengatakan bahwa setiap pemimpin ketika memerintah bawahannya pasti menggunakan jari telunjuk dan bukan jari lainnya. Dengan acungan jari telunjuk, maka semua bawahan akan menurut. Kemanapun jari telunjuk ini mengarah, kesitulah bawahan mengikuti. Ringkasnya, dibawah kendali Pendekar Telunjuk maka semua orang akan tunduk dan menurut. Tidak ada satupun yang bisa membantahnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Telunjuk, maka kembali seluruh penonton memberikan sambutan yang riuh.

Giliran ketiga yang tidak kalah hebatnya adalah Pendekar Tengah. Seketika dia meminta kepada semua pendekar untuk berdiri, dan nyatalah bahwa Pendekar Tengah adalah pendekar tertinggi. Dan dengan jurus berdiri itulah kemudian Pendekar Tengah menjadi tak terkalahkan oleh pendekar yang lainnya. Dan seluruh penonton dibuat kagum oleh kehebatan jurus sang Pendekar Tengah yang menyambutnya dengan tepukan meriah.

Pada giliran keempat tampillah Pendekar Manis. Tak mau kalah dengan penampilan para pendekar sebelumnya, Pendekar Manispun mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dia mengatakan bahwa setiap penghargaan hebat dalam bentuk cincin maka tempatnya pasti di jari manis. Cincin kawinpun dipasang di jari manis dan bukan dijari yang lain. Alangkah lucunya kalau ditaruh di jempol. Demikian kehebatan Pendekar Manis dengan jurus cincinnya membuat arena pertarungan semakin bergemuruh, seperti belum ada tanda siapa yang bakalan menjadi pemenang.

Sehingga sampailah pada giliran terakhir yaitu Pendekar kelingking. Ketika maju ke arena – tidak seperti pendekar lain yang langsung mempertontonkan kehebatannya – Pendekar Kelingking terlihat kebingungan. Mungkin dia tidak menyangka akan kehebatan jurus-jurus dari pendekar yang lainnya. Ketika penonton sudah mulai gelisah dan kelihatan brutal, tiba-tiba .... Kalau Pendekar Jempol hebat dengan jurus jempolnya, Pendekar Telunjuk dengan jurus telunjuknya. Kemudian Pendekar Tengah dengan jurus berdirinya dan Pendekar Manis dengan jurus manisnya, maka saksikanlah jurus hebatku. Demikian kata Pendekar Kelingking.

Tiba-tiba Pendekar Kelingking masuk ke hidung sang raja dan bergerak-gerak mengorek-korek hidung sang raja. Dan ketika keluar, Pendekar Kelingking membawa benda hitam yang menempel pada tubuhnya. Dengan bangga Pendekar Kelingking mengatakan, “ Tanpa saya maka hidung sang raja akan kotor dan terus kotor sehingga pada akhirnya raja tidak bisa bernafas. Tidak ada satupun dari pendekar yang lain berani masuk ke hidung sang Raja, apalagi Pendekar Jempol”. Mendengar itu maka seluruh penonton kembali memberikan sambutan meriah. Dan sepertinya keadaan seimbang untuk kelima pendekar yang ada.

Melihat bahwa hingga penampilan terakhir tidak ada yang menang, maka rajapun memberikan satu pertandingan lagi. Dan pertandingan terakhir adalah lomba menyapu lantai. Dan setelah lomba dimulai tidak ada satupun pendekar yang turun ke arena. Mereka cuma bengong dan tidak tahu harus melakukan apa. Setelah masing-masing memikirkan jurus andalannya tetapi tidak juga ketemu, maka akhirnya para pendekar itupun sadar bahwa mereka masing-masing tidak akan mampu menyelesaikan tantangan raja. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan tantangan itu adalah dengan adanya kerjasama diantara kelima pendekar itu dan menanggalkan ego kehebatan masing-masing. Dan tantangan raja itupun terselesaikan sudah.

Nah - sekali lagi – cerita ini murni 100% fiktif. Akan tetapi keberadaannya sangat dengan dengan kehidupan kita. Tidak lain itu adalah penggambaran dari jari-jari di tangan kita. Kalau ditanyakan, lantas siapakah yang palinh hebat ? Maka jawabannya ya jelas nggak ada yang paling hebat. Tetapi mereka akan menjadi jauh lebih hebat apabila ada sinergi yang baik diantara semua elemen jari yang ada. Nah sekarang coba pembaca bikin cerita sejenis, biar nggak ngantuk.

Setelah panjang lebar menyimak kisah negeri Hand, kita kembali ke 2 pertanyaan di atas. Sudah pada tahu jawabannya ? Atau malah tambah bingung dan maunya nyimak cerita terus ? Jangan kuatir, di lembar-lembar berikutnya akan saya tampilkan kisah yang jauh lebih seru. Bahkan sebagiannya tidak lagi rekaan saja, tetapi benar-benar mewakili ranah kehidupan nyata. Biar lebih asyik gitu.

Baik, inilah jawaban yang benar. Awas nggak boleh ngeyel dan membantah. Karena di buku ini tidak disediakan halaman khusus buat ngeyel dan membantah. Dan karena saya yang nulis buku ini, maka semua pembaca wajib dan kudu sepakat dengan jawaban saya. Bagi yang tidak sepakat, silakan bikin buku tandingan. Setelah itu saya juga akan bikin buku tandingan lagi. Biar jagat perbukuan kita tambah ramai.

Jadi menurut saya sih – eh ini setelah saya merenung panjang dan lama, baca ini itu, tanya sana sini, dengerin ustaz ini dan ustaz itu, nyimakin acara dari yang salamnya dhsyat sampai yang super – yang disebut orang yang hebat itu ya orang yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Yang paling banyak memberikan kebahagiaan pada orang lain. Yang paling banyak menjadikan orang lain tersenyum manis dan ikhlas. Yang paling banyak ikut menyelesaikan persoalan orang lain. Pokoknya – cuma saya yang boleh bilang pokoknya dibuku ini – ya orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ajaran agama mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia (baca : manusia paling hebat) adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain. Bukan yang paling kuat badannya, bukan juga yang paling pintar akalnya. Apalagi yang paling bisa nakut-nakutin orang lain. Enggak lah ya.

Kok bisa ? Ya bisa aja. Karena orang hebat macam begitu sudah nggak lagi mengedepankan egonya tetapi lebih mengedepankan kesadaran akan hakikat dan tujuan hidupnya yang dilandasi oleh adanya kesadaran penuh akan hakikatnya sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah Tuhan pencipta alam semesta raya ini. Kesadaran ini menjadikannya sebagai manusia yang terkendali. Tindakannya lebih dikendalikan oleh tujuan besar kehidupan setelah kematiannya. Hal ini menjadikannya sangat hati-hati dalam menjalani kehidupannya. Kesalahan sedikit akan diyakininya sebagai hal yang akan menghancurkan. Jadi gitu ceritanya tentang siapa itu orang yang hebat.

Senin, 03 November 2008

Manusia, Bagian Dari Alam Semesta

Nah, yang ini juga perlu disepakati sebelumnya. Biar tidak terjadi pertumpahan darah dikemudian hari – wuih, serem banget sih penggambarannya – seandainya ada banyak tafsiran tentang siapa manusia. Yang jelas manusia itu adalah bagian dari jagad raya yang namanya alam semesta. Dan karena alam raya ini tidak lain adalah ciptaan Allah, maka manusia juga bagian dari yang disebut sebagai ciptaan Allah. Tentunya apapun yang terjadi pada manusia tidak akan pernah luput dari kehendak dan ketentuan Allah, seberapa hebat dan pintarnya manusia tersebut.

Ada sebuah cerita tentang orang yang begitu percaya diri dengan pengetahuan dan pengendalian dirinya. Sebuat saja orang ini adalah Vijay, orang yang sejak dilahirkan hingga menginjak usia 73 tahun menetap di India dan tidak pernah keluar dari negeri itu.

Mengingat bahwa sejak lahir hingga usia 73 tahun yang diyakininya sudah mendekati ajalnya – dikuatkan lagi keyakinannya dengan tunuh yang tidak lagi sehat – dia menetap di India, maka dia memiliki keyakinan kuat bahwa Tuhan tentu telah menetapkan bahwa dirinya akan meninggal di India juga. Dalam hatinya Vijay meyakini bahwa tidak mungkin Tuhan menetapkan tempat kematiannya di luar India, mengingat selama 73 tahun masa kehidupannya dia menetap di India.

Mengingat bahwa selama hidup dirinya tergolong orang yang disiplin, ketat dalam pelaksanaan agenda hidup sesuai dengan rencana-rencananya serta selama ini hasilnya tidak jauh dari perencanaan awalnya, maka keyakinan dia bahwa Tuhan telah menetapkan tempat kematiannya di India sangatlah kuat (emang si Vijay sudah lihatin catatan rahasia Tuhan). Vijay yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa India adalah tempat yang sudah ditentukan sebagai bumi kematiannya.

Kemudian kesombongannya sebagai manusia yang disiplin melahirkan pemikiran untuk menentang ketentuan Tuhan tentang tempat kematiannya. Dia seperti hendak membuktikan bahwa untuk kali ini ketentuan Tuhan meleset, dan ketentuan dan keinginannyalah yang benar. Waduh, durhaka banget ini orang. Kemudian dipilihlah Amerika Serikat untuk menjadi tempat peristirahatan terakhirnya sekaligus sebagai tempat kematiannya, sesuatu yang tidak lain sebagai cara dia untuk membuktikan bahwa dia bisa mengubah ketentuan tempat kematiannya.

Dalam perjalanan pesawat menuju Amerika yang kebetulan harus transit di Inggris – bener atau tidak biarkan saja, orang ini khan Cuma permisalan saja – saat hendak landing di bandara di Inggris, ternyata terjadi kecelakaan. Roda pesawat tidak bisa keluar dengan sempurna sehingga pesawat tergelincir dan membentur landasan dengan kerasnya. Pesawatpun terbakar dan meledak. Dan tidak ada satupun penumpak dan awak pesawat yang selamat termasuk si Vijay.

Konon di alam kubur arwah penasaran Vijay bertanya kepada malaikat penjaga kubur. “ Malaikat, kok saya meninggalnya di Inggris sih. Bukannya Tuhan sudah menulis tempat kematian saya di India,” tanya Vijay sambil merengut. Kemudian dijawab oleh malaikat,” kata siapa Tuhan sudah menulis tempat kematian kamu di India”. Vijaypun menyambung protesnya,” Ya kan sejak lahir hingga sebelum meninggal aku tidak pernah meninggalkan bumi India, ya pastilah aku ditakdirkan mati di India. Makanya aku mau merubah ketentuan itu dengan terbang ke Amerika supaya meninggal di sana. Eeh .. malah meninggal di Inggris. Gimana sih Tuhan ini, plin-plan”. Dengan senyum lebarnya sang Malaikatpun menjelaskan,” Gini Vijay. Yang bilang kamu bakalan mati di India itu siapa. Wong kamu dan semua penumpang pesawat itu sudah dituliskan kematiannya di Inggris, tepatnya di bandara di Inggris. Kalau nggak percaya lihat nih catatan saya yang diberikan oleh Tuhan”.

Penasaran ingin mengetahuinya, Vijaypun akhirnya melihat catatan itu. Dan benar, namanya tercantum di catatan orang yang meninggal di bandara di Inggris. Melihat Vijay tertunduk bingung, sang malaikatput melanjutkan. “Karena kamu sudah ditakdirkan meninggal di Inggris, maka kamu yang sejak lahir tidak pernah keluar dari Indiapun kemudian Tuhan tiupkan keinginan untuk meninggalkan India, dan kamu pilih ingin ke Amerika. Kemudian Tuhan arahkan supaya kamu memilih pesawat yang transit di bandara di Inggris, padahal banyak pesawat lain yang nggak transit di Inggris. Kemudian Tuhan arahkan pikiran dan tangan para pekerja maskapai penerbangan untuk memilihkan kamu di pesawat yang memang sudah tidak beres. Dan ketahuilah bahwa ketika pesawat melayang terbang diudara, disisi tempat duduk kamu sudah menunggu malaikat pencabut nyawa dengan siaga. Maka begitu pesawat tidak bisa mendarat dengan sempurna dan terjadi ledakan hebat, saat itulah malaikat pencabut nyawa bekerja dengan sempurna persis seperti ketentuan dari Tuhan”.

Vijay yang mendengarkan keterangan dari malaikat penjaga kuburpun hanya bisa tertunduk malu karena perkiraannya salah besar. Barangkali dalam hatinya Vijay ingin mengatakan bahwa, bagaimanapun Tuhan susah sekali untuk di kibuli. Betapa hebatnya manusia itu. (Aduhhhh, serius banget baca ceritanya. Udahan ya, sudah selesai ceritanya).

Tentu kisah di atas fiktif belaka. Mana ada orang yang sudah mati seperti Vijay bisa bercerita yang begituan sama saya. Ya nggak mungkin lah. Tetapi setidaknya cerita semacam itu bisa memberikan gambaran sederhana bahwa apapun yang terjadi di kehidupan kita tidak akan pernah meleset dari ketentuan dan ketetapan Allah. Semua elemen alam raya ini berjalan mengikuti ketentuan dan ketetapan Allah Tuhan semesta Alam. Tidak ada satupun yang berjalan mengikuti kemauan makhluk itu sendiri-sendiri sehingga pada akhirnya terlepas dari mekanisme kontrol Allah.

Dalam khasanah muslim maka diyakini bahwa alam semesta dan seluruh benda dan makhluk yang ada di dalamnya selalu dan tidak pernah henti bertashbih mensucikan nama dan ketentuan Tuhannya yaitu Allah. Tidak mungkin makhluk di jagad raya semesta ini bertashbih mensucikan Allah kecuali mereka tunduk patuh kepada apaun yang sudah ditetapkan oleh Allah Tuhan penguasa alam semesta. Tidak ada satupun makhluk yang menselisihi ketentuan Allah. Demikian juga dengan manusia.


Ada Apa Dengan Kehendak Tuhan ?

Percaya deh, apapun kebisaan dan kehebatan kita maka tidak akan mampu melawan kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah mengehendaki sesuatu terhadap makhluknya, maka argumen paling ilmiyah sekalipun menurut manusia tidak akan mampu menggagalkan ataupun memundurkannya walaupun sedikiiiiiiiiit sekali. Pada akhirnya – mau enggak mau – manusia mesti ngalah, mesti ngikutin kehendak Allah.

Dulu waktu di sekolah dasar kita diajari bahwa di Indonesia ada dua musim dalam setahun (awas..., ini bukan ngomongin musim buah-buahan loh). Yaitu musim kemarau dan musim hujan. Tidak lupa guru kita ikut “memastikan” bahwa musim kemarau itu muncul antara bulan April sampai dengan akhir September. Dan musim hujan tentunya akan ada di bulan Oktober sampai dengan akhir Maret tahun berikutnya. Masih ingat semua kan pejaran SD dulu ?

Tapi apa yang terjadi dengan cuaca kita hari-hari belakangan ini. Mau bulan Mei, Juni atau Oktober, kalau mau panas ya panas saja. Argumentasi ilmiyah manusia menjadi kurang dipakai lantaran ada kehendak lain yang lebih mampu mengendalikan persoalan cuaca melebihi kemampuan prediksi BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) ataupun kaidah ilmiyah pembagian musim yang selama ini kita yakini. Kalau ditanya kehendak siapakah yang lebih menentukan, tentu anda semua sudah paham kalau itu adalah kehendak Allah.

Atau seperti cerita hebat dari daerah bekas bencana tsunami di seantero Aceh. Ketika rumah-rumah beton yang kokoh itu bisa hanyut terseret arut tsunami yang dahsyat, tetapi ada musholla atau masjid yang kecil dan lebih reot dari rumah-rumah yang kokoh itu justru tetap kokoh berdiri dan selamat dari gerusan gelombang tsunami nan dahsyat itu.

Adakah penjelasan ilmiyah berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang bisa menjelaskan fenomena ganjil tersebut. Dengan logika dan penjelasan apa kita bisa menggambarkan fenomena air yang – sepertinya – enggan mengahncurkan bangunan yang di dalamnya ditegakkan ibadah pada sang Pencipta. Coba jelaskan, ayo jelaskan dong ...... bingung kan. Atau paling-paling cuma mau bilang, kalau itu sudah kehendak Allah. Ya, lagi-lagi kehendak Allah yang tidak selalu harus bisa dijelaskan dan diterima nalar manusia.

Intinya kalau Allah mau, apapun akan terjadi. Bodoh amat bahwa logika manusia dan kaidah keilmuwan yang diyakini manusia mengatakan yang sebaliknya. Yang jelas alam semesta ini berjalan sesuai dengan aturan main Allah dan bukan atas kesepakatan ilmiyah versi manusia. Gitu.


Kalimat Pencerahan

Pertama kali perlu disampaikan disini bahwa buku yang sekarang sedang anda baca – saya tidak harus tahu apakah anda beli, mengkopi atau pinjam dari reman anda, yang jelas anda sedang baca sekarang – muncul dihadapan anda bukanlah kerana sebuah kebetulan.

Bukan kerana kebetulan di toko buku –
atau di rak buku teman anda yang anda pinjam bukunya – tidak ada lagi buku yang menurut anda menarik kecuali buku ini (Ge-Er banget nih). Tentunya juga bukan karena kebetulan sebua judul buku sudah anda baca habis kecuali tinggal buku ini yang tersisa, sehingga anda terpaksa membacanya karena tidak ada pilihan lain (yang ini nggak enak banget kedengarannya).


Dan saya juga yakin banget –
insya Allah - bahwa anda baca buku ini bukan karena kebetulan karena tugas dari sekolah, bos atau ortu. Dan tentu juga bukan kebetulan karena duit anda hanya cukup untuk beli buku seharga buku ini. Apalagi karena kebetulan nama penulisnya agak aneh – aneh gak papa yang penting menjual – sehingga anda juga beranggapan bahwa isinya pasni yang aneh-aneh.


Saya yakin bukan karena kebetulan-kebetulan itu semua –
sebenernya masih banyak lagi kebetulan yang lain,cuma capek kalau disebutin semuanya – sehingga anda rela maksain nbaca buku ini. Tetapi saya yakin sepenuhnya bahwa buku ini bisa berada di depan anda dan sedang anda baca karena memang Tuhan (Allah SWT) menghendakinya (wah kalau yang itu semua orang juga tahu, gitu kali ya anda semua mikirnya).


Saya bisa nulis kata demi kata sehingga bisa berujud buku tentu bukan karena kebetulan saya tiba-tiba nulis begitu saja. Kemudian buku ini bisa terbit juga bukan karena kebetulan saya banyak kenal dengan kalangan penerbit sehingga mudah terbit. Kemudian bisa didisplay di toko buku yang kemudian anda mau membelinya dan capek-capek mau membacanya, juga bukan karena kebetulan-kebetulan yang saling merangkai diri menjadi sebuah episode hidup.


Sekali lagi saya tegaskan bahwa itu semua tidak lepas dari kehendak dan skenario Allah. Jauh sebelum semuanya menjadi mungkin untuk lahirnya buku ini – dan juga kejadian-kejadian lainnya di alam raya ini – Allah telah meretaskan jalan panjang yang diatas jalan inilah semua peristiwa terjadi.


Agar saya bisa menulis misalnya, Allah memberikan kemampuan buat saya bisa memiliki sebuah laptop. Juga Allah telah memudahkan saya untuk berinteraksi di dunia perbukuan dengan pengalaman 5 tahun di perbukuan atau lebih tepatnya penerbitan. Allah juga berikan kesempatan bagi saya untuk memiliki banyak waktu untuk menulis, dengan diberikan keberanian untuk mundul dari jabatan strategis di perusahaan lama tempat saya kerja. Dan sekali lagi, semua hal yang menjadikan kemungkinan terbitnya buku ini. Dan tentu juga hingga anda baca buku ini.

Kok jadi serius banget ya. Tapi gak papa kok kalau itu menjadikan anda merasa lebih mudah untuk memahami kata demi kata dari buku ini. Pokoknya apapun yang menjadikan anda bisa paham ini buku itu, lakukan. Nggak harus sama cara anda baca. Yang jelas ada satu larangan yang nggak boleh dilanggar, yaitu anda nggak boleh baca sambil tidur. Dan anda harus sepakat.