Selasa, 04 November 2008

Menjadi Orang Hebat

Ehemmm. Sebelum kita lanjutkan pengajian - eh bukan pengajian tetapi pengkajian – kita tentang gimana menjadi manusia yang hebat, maka tolong jawab dulu pertanyaan berikut :

1. Manusia hebat itu apaan sih ? hayo cepat dijawab.
2. Kenapa sih manusia perlu menjadi hebat. Emang harus ? yang ini juga harus dijawab loh.

Baik. Perhatikan. Setelah anda menjawabnya dengan yakin dan mantap – apapun jawaban anda – tidak peduli apakah jawaban anda itu logis atau tidak, serius atau tidak, lazim atau tidak, aneh atau tidak – coba terusin cari kata-kata yang lain yang senada dengan deretan kata-kata diatas – dan anda bisa mempertahankan jawaban anda dengan argumentasi yang baik tidak peduli argumentasi itu benar atau tidak – sudah, nggak usah panjang-panjang – yang penting jangan bilang pokoknya, maka jawaban anda itu benar. Paling tidak benar menurut anda. Daripada nggak ada yang mau membenarkan jawaban anda ?

Tetapi seandainya kita hanya menginginkan benar menurut selera kita masing-masing yang dengan itu kita berusaha mempertahankannya mati-matian – walaupun sudah ketahuan kalau jawaban dan argumen orang lain lebih mendekati kebenaran – maka kehidupan ini bisa kacau. Maka dari itu seberapapun tingkat kecerdasan dan kepandaian kita, maka perlu adanya semacam kesepakatan untuk mendefisikan atau menjawab sebuah persoalan.

Untu itu dibutuhkan kebesaran jiwa dari masing-masing kita untuk bisa menerima sesuatu yang memang dirasakan secara sadar lebih mendekati kaidah kebenaran. Untuk itu dibutuhkan kesiapan dari masing-masing kita untuk menanggalkan jubah keyakinan kita ketika sudah disepakati suatu kebenaran baru yang berbeda dengan anggapan awal yang kita yakini. Tanpa kebesaran jiwa semacam itu, maka sulit rasanya untuk bisa menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan di atas.

Ya, tapi jawabannya yang benar apaan ?

Sabar dulu, sebentar. Jawaban yang benar apa, itu tidak penting. Yang penting adalah kesiapan kita untuk menerima kemungkinan kebenaran dari jawaban orang lain. Nah, makanya sebelum saya sampaikan jawaban yang benar, sebaiknya kita lihat penggalan kisah yang berikut ini.

Alkisah berkumpullah 5 jawara hebat di Negeri Hand. Kelima jawara tersebut adalah pendekar hebat tak terkalahkan yang selama ini telah berjasa mempertahankan negeri Hand dari serangan musuh. Akan tetapi raja sepertinya ingin memberikan penghargaan kepada pendekar terbaik dari kelima pendekar hebat yang ada. Sehingga akhirnya kelima pendekar itupun diuji kehebatannya dengan diadakan pertarungan secara terbuka.

Setelah seluruh rakyat dan penghuni istana negeri Hand sudah memenuhi lapangan tempat pertarungan kelima jawara terbaik negeri, maka pertarunganpun dimulai. Dan sebelumnya masing-masing pendekar diperintahkan raja untuk memperkenalkan kehebatan masing-masing.

Kesempatan pertama, tampillah Pendekar Jempol (Pendekar Ibu Jari). Dia mengatakan bahwa tidak ada yang lebih hebat darinya. Setiap kali manusia hendak memberikan ungkapan tanda kehebatan seseorang atau sebuah kejadian, maka yang diacungkan oleh tangan adalah Ibu Jari dan bukan jari yang lain. Diapun mengatakan bahwa tanpa dirinya – ibunya para jari – maka tidak akan mungkin ada jari yang lain. Tak lupa Pendekar Jempol juga memamerkan bentuk tubuhnya yang memang kelihatan lebih besar dan berisi dibandingkan jari yang lainnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Jempol, maka seluruh pendudukan negeri Hand-pun memberikan tepuk tangan meriah dan mengelu-elukannya sebagai pendekar hebat.

Kemudian pada kesempatan kedua, tampillah Pendekar Telunjuk. Dengan gagah berani dia menunjukkan kehebatannya. Dia mengatakan bahwa setiap pemimpin ketika memerintah bawahannya pasti menggunakan jari telunjuk dan bukan jari lainnya. Dengan acungan jari telunjuk, maka semua bawahan akan menurut. Kemanapun jari telunjuk ini mengarah, kesitulah bawahan mengikuti. Ringkasnya, dibawah kendali Pendekar Telunjuk maka semua orang akan tunduk dan menurut. Tidak ada satupun yang bisa membantahnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Telunjuk, maka kembali seluruh penonton memberikan sambutan yang riuh.

Giliran ketiga yang tidak kalah hebatnya adalah Pendekar Tengah. Seketika dia meminta kepada semua pendekar untuk berdiri, dan nyatalah bahwa Pendekar Tengah adalah pendekar tertinggi. Dan dengan jurus berdiri itulah kemudian Pendekar Tengah menjadi tak terkalahkan oleh pendekar yang lainnya. Dan seluruh penonton dibuat kagum oleh kehebatan jurus sang Pendekar Tengah yang menyambutnya dengan tepukan meriah.

Pada giliran keempat tampillah Pendekar Manis. Tak mau kalah dengan penampilan para pendekar sebelumnya, Pendekar Manispun mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dia mengatakan bahwa setiap penghargaan hebat dalam bentuk cincin maka tempatnya pasti di jari manis. Cincin kawinpun dipasang di jari manis dan bukan dijari yang lain. Alangkah lucunya kalau ditaruh di jempol. Demikian kehebatan Pendekar Manis dengan jurus cincinnya membuat arena pertarungan semakin bergemuruh, seperti belum ada tanda siapa yang bakalan menjadi pemenang.

Sehingga sampailah pada giliran terakhir yaitu Pendekar kelingking. Ketika maju ke arena – tidak seperti pendekar lain yang langsung mempertontonkan kehebatannya – Pendekar Kelingking terlihat kebingungan. Mungkin dia tidak menyangka akan kehebatan jurus-jurus dari pendekar yang lainnya. Ketika penonton sudah mulai gelisah dan kelihatan brutal, tiba-tiba .... Kalau Pendekar Jempol hebat dengan jurus jempolnya, Pendekar Telunjuk dengan jurus telunjuknya. Kemudian Pendekar Tengah dengan jurus berdirinya dan Pendekar Manis dengan jurus manisnya, maka saksikanlah jurus hebatku. Demikian kata Pendekar Kelingking.

Tiba-tiba Pendekar Kelingking masuk ke hidung sang raja dan bergerak-gerak mengorek-korek hidung sang raja. Dan ketika keluar, Pendekar Kelingking membawa benda hitam yang menempel pada tubuhnya. Dengan bangga Pendekar Kelingking mengatakan, “ Tanpa saya maka hidung sang raja akan kotor dan terus kotor sehingga pada akhirnya raja tidak bisa bernafas. Tidak ada satupun dari pendekar yang lain berani masuk ke hidung sang Raja, apalagi Pendekar Jempol”. Mendengar itu maka seluruh penonton kembali memberikan sambutan meriah. Dan sepertinya keadaan seimbang untuk kelima pendekar yang ada.

Melihat bahwa hingga penampilan terakhir tidak ada yang menang, maka rajapun memberikan satu pertandingan lagi. Dan pertandingan terakhir adalah lomba menyapu lantai. Dan setelah lomba dimulai tidak ada satupun pendekar yang turun ke arena. Mereka cuma bengong dan tidak tahu harus melakukan apa. Setelah masing-masing memikirkan jurus andalannya tetapi tidak juga ketemu, maka akhirnya para pendekar itupun sadar bahwa mereka masing-masing tidak akan mampu menyelesaikan tantangan raja. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan tantangan itu adalah dengan adanya kerjasama diantara kelima pendekar itu dan menanggalkan ego kehebatan masing-masing. Dan tantangan raja itupun terselesaikan sudah.

Nah - sekali lagi – cerita ini murni 100% fiktif. Akan tetapi keberadaannya sangat dengan dengan kehidupan kita. Tidak lain itu adalah penggambaran dari jari-jari di tangan kita. Kalau ditanyakan, lantas siapakah yang palinh hebat ? Maka jawabannya ya jelas nggak ada yang paling hebat. Tetapi mereka akan menjadi jauh lebih hebat apabila ada sinergi yang baik diantara semua elemen jari yang ada. Nah sekarang coba pembaca bikin cerita sejenis, biar nggak ngantuk.

Setelah panjang lebar menyimak kisah negeri Hand, kita kembali ke 2 pertanyaan di atas. Sudah pada tahu jawabannya ? Atau malah tambah bingung dan maunya nyimak cerita terus ? Jangan kuatir, di lembar-lembar berikutnya akan saya tampilkan kisah yang jauh lebih seru. Bahkan sebagiannya tidak lagi rekaan saja, tetapi benar-benar mewakili ranah kehidupan nyata. Biar lebih asyik gitu.

Baik, inilah jawaban yang benar. Awas nggak boleh ngeyel dan membantah. Karena di buku ini tidak disediakan halaman khusus buat ngeyel dan membantah. Dan karena saya yang nulis buku ini, maka semua pembaca wajib dan kudu sepakat dengan jawaban saya. Bagi yang tidak sepakat, silakan bikin buku tandingan. Setelah itu saya juga akan bikin buku tandingan lagi. Biar jagat perbukuan kita tambah ramai.

Jadi menurut saya sih – eh ini setelah saya merenung panjang dan lama, baca ini itu, tanya sana sini, dengerin ustaz ini dan ustaz itu, nyimakin acara dari yang salamnya dhsyat sampai yang super – yang disebut orang yang hebat itu ya orang yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Yang paling banyak memberikan kebahagiaan pada orang lain. Yang paling banyak menjadikan orang lain tersenyum manis dan ikhlas. Yang paling banyak ikut menyelesaikan persoalan orang lain. Pokoknya – cuma saya yang boleh bilang pokoknya dibuku ini – ya orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ajaran agama mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia (baca : manusia paling hebat) adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain. Bukan yang paling kuat badannya, bukan juga yang paling pintar akalnya. Apalagi yang paling bisa nakut-nakutin orang lain. Enggak lah ya.

Kok bisa ? Ya bisa aja. Karena orang hebat macam begitu sudah nggak lagi mengedepankan egonya tetapi lebih mengedepankan kesadaran akan hakikat dan tujuan hidupnya yang dilandasi oleh adanya kesadaran penuh akan hakikatnya sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah Tuhan pencipta alam semesta raya ini. Kesadaran ini menjadikannya sebagai manusia yang terkendali. Tindakannya lebih dikendalikan oleh tujuan besar kehidupan setelah kematiannya. Hal ini menjadikannya sangat hati-hati dalam menjalani kehidupannya. Kesalahan sedikit akan diyakininya sebagai hal yang akan menghancurkan. Jadi gitu ceritanya tentang siapa itu orang yang hebat.

Tidak ada komentar: